Jagat maya Cirebon digegerkan dengan kemunculan video pendek berdurasi 16 detik yang menunjukkan sosok mirip Kuwu Karangsari, Casmari, sedang menyawer uang di sebuah diskotik saat pertunjukan DJ berlangsung. Dalam video tersebut, Casmari terlihat mengambil uang dari dompetnya dan melemparkannya ke arah pengunjung.
Aksi ini langsung viral di media sosial dan memicu berbagai komentar, mulai dari yang penasaran, menyayangkan, sampai menuntut klarifikasi. Video itu diduga diambil saat Casmari mengunjungi salah satu tempat hiburan malam yang menampilkan DJ dari Ibu Kota.
Dalam keterangannya, Casmari tak menampik bahwa ia adalah sosok dalam video tersebut. Mengutip dari RadarCirebon.tv, ia mengaku sedang dalam kondisi tidak sepenuhnya sadar karena pengaruh minuman keras saat kejadian berlangsung.
Casmari juga menegaskan bahwa uang yang digunakan untuk sawer-menyawer adalah uang milik pribadi, bukan dana desa atau anggaran pemerintah.
Ia bahkan menyebut bahwa sejak sebelum menjabat sebagai kepala desa, dirinya sudah punya usaha dan kekayaan sendiri. Gajinya sebagai kuwu pun, katanya, tidak ia ambil dan justru dibagikan kepada warga kurang mampu di desanya.

Lebih lanjut, Casmari mengaku bahwa kebiasaannya menyawer di tempat hiburan bukanlah hal baru. Ia mengklaim sudah sejak lama menyukai hiburan malam dan pernah menghabiskan uang jutaan rupiah untuk menyawer artis panggung.
Meskipun begitu, ia menyadari bahwa statusnya sebagai pejabat publik membuat dirinya tak bisa lepas dari sorotan. Ia memaklumi jika ada sebagian warga yang kecewa atau menyayangkan tindakannya.
Namun menurutnya, kepala desa pun tetap manusia biasa yang punya sisi hiburan dan kehidupan pribadi.
Video tersebut memancing reaksi beragam. Sebagian masyarakat menganggap tindakan Casmari sebagai urusan pribadi, selama tidak menggunakan uang negara.
Tapi tidak sedikit juga yang mengkritik, karena perilaku tersebut dianggap kurang pantas dilakukan oleh seorang kepala desa.
Apalagi, tempat hiburan malam dan aksi menyawer masih jadi hal sensitif di tengah budaya masyarakat yang religius. Tak heran, sejumlah tokoh masyarakat dan warga mulai menyuarakan aspirasi agar pejabat publik bisa menjaga sikap dan memberi contoh yang baik di ruang publik maupun ruang pribadi.

Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak kecamatan atau Pemkab Cirebon terkait apakah akan ada tindak lanjut terhadap kejadian ini. Namun kasus ini jelas jadi catatan penting tentang etika dan perilaku pejabat di era digital.
Aksi sekecil apapun bisa terekam dan tersebar luas dalam hitungan detik. Bagi publik figur seperti kuwu, setiap tindakan bisa berdampak pada citra dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan desa.