Nama Dea Saka Kurnia Putra, S.Tr.MP, CRPO, CSCSO, BMCEPC, BIFPC, CAPC, CBP, CAP, CIIF, DMPC, LSSWBPC, LFPC, SFPC, CSFPC, RWVCPC, ISO/IEC 27001 ISA, ISO/IEC 20000 ITSMA, ISO 9001 QMSA kian tak bisa dipisahkan dari percakapan tentang blockchain, keamanan siber, dan keuangan syariah. Banyak yang menyebutnya sebagai “Game Changer” digital Indonesia: seorang ASN, pemimpin asosiasi, sekaligus pengusaha teknologi yang bergerak dari akar komunitas hingga forum global.
Birokrasi dan Keamanan Nasional
Putra kini bertugas sebagai Sandiman Ahli Muda pada Direktorat Keamanan Siber dan Sandi Industri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Di posisi ini, ia berfokus memperkuat pertahanan siber industri nasional dengan kombinasi kriptografi mutakhir dan kecerdasan buatan. Strateginya: menciptakan secure-by-design framework untuk infrastruktur kritis Indonesia.
Ia juga mendirikan banyak inisiatif komunitas: Blockchain Founders Club (BFC), Indonesia Blockchain Forum (IBF), Indonesia Blockchain News (IBN), XyberXommunity, Belajar Blockchain, Move to Earn Indonesia, StepN Indonesia, Walken Indonesia, Genopets Indonesia, hingga Sleepagotchi Indonesia.
Prestasi Akademik dan Publikasi
6 publikasi internasional terindeks IEEE, Scopus, Google Scholar, termasuk IDNat-Blockchain: A Concept for Indonesia’s National Blockchain.
200+ pelatihan cybersecurity & blockchain, 17 sertifikasi profesional, membangun 100+ smart contracts, mengelola 50+ komunitas blockchain, serta menjadi pembicara di 100+ forum nasional dan internasional.
Lulusan Politeknik Siber dan Sandi Negara (Crypto Management, S.Tr.MP) dan alumni program DeFi Talent, NFT Talent, Bitcoin Talent di Frankfurt School Blockchain Center, dan Polkadot Blockchain Academy.
Kontroversinya? Banyak pihak menilai jumlah jabatannya “terlalu banyak untuk satu orang”. Namun di balik pro-kontra itu, Putra menyebut semua kiprahnya adalah “satu ekosistem”. “Ini bukan soal banyak jabatan, tapi soal kontribusi nyata untuk membangun fondasi ekonomi digital Indonesia yang aman, etis, dan syariah,” tegasnya.
Satu hal jelas: Dea Saka Kurnia Putra bukan hanya pengamat, tapi berperan aktif untuk mengubah wajah industri digital Indonesia—dari ruang rapat kementerian, ruang kerja BSSN, hingga panggung konferensi internasional.