ThisCirebon – Kalau bicara soal sejarah di Jawa Barat, nama Cirebon selalu punya cerita yang menarik. Kota ini bukan cuma dikenal karena udang rebon, terasinya yang khas, atau batik megamendung yang melegenda. Di balik itu semua, tersimpan kisah besar tentang Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon, yang menjadi salah satu tonggak lahirnya peradaban Islam di tanah Sunda.
Cirebon bukan sekadar kota pelabuhan, tapi juga simpul pertemuan budaya Jawa dan Sunda, tempat para pedagang dari berbagai bangsa bertemu, berdagang, sekaligus menyebarkan ajaran agama. Dari sinilah lahir Kesultanan Cirebon, kerajaan Islam pertama di Jawa Barat yang punya pengaruh besar terhadap penyebaran Islam di Nusantara.

Sebelum dikenal sebagai Cirebon, wilayah ini hanyalah sebuah perkampungan kecil di pesisir utara Jawa bernama Caruban. Menurut catatan naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, daerah ini didirikan oleh Ki Gedeng Tapa, seorang tokoh yang membuka pelabuhan di pesisir utara untuk memfasilitasi aktivitas perdagangan.
Nama Caruban sendiri berarti “campuran”, karena masyarakatnya berasal dari berbagai latar belakang suku, bahasa, dan agama. Ada pedagang dari Jawa Tengah, Sunda, Melayu, hingga Gujarat dan Arab yang datang silih berganti. Dari interaksi itu, lahir masyarakat yang terbuka, dinamis, dan penuh warna.
Dari sinilah akar Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon mulai tumbuh. Aktivitas perdagangan di pelabuhan berkembang pesat, terutama karena hasil laut melimpah seperti ikan dan udang rebon yang diolah menjadi terasi. Dari kata Cai (air) dan Rebon (udang kecil), muncul nama “Cairebon”, yang akhirnya disingkat menjadi Cirebon.

Kisah berdirinya Kesultanan Cirebon tidak bisa lepas dari sosok Pangeran Walangsungsang, atau yang lebih dikenal dengan Pangeran Cakrabuana. Ia adalah putra dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, dan ibunya, Nyai Subanglarang, yang sudah memeluk agama Islam.
Sebagai anak tertua, Walangsungsang seharusnya menjadi pewaris tahta Pajajaran. Tapi karena keyakinan Islamnya bertentangan dengan ajaran Hindu-Sunda Wiwitan yang dianut di kerajaan, hak warisnya dicabut. Ia pun memilih meninggalkan istana dan mencari jalan baru di pesisir utara Jawa.
Sekitar tahun 1430 Masehi, Walangsungsang membuka pemukiman di daerah Kebon Pesisir, mendirikan Dalem Agung Pakungwati, dan membentuk sistem pemerintahan sederhana. Dari sinilah cikal bakal Kerajaan Cirebon dimulai. Setelah menunaikan ibadah haji, Walangsungsang bergelar Haji Abdullah Iman dan aktif menyebarkan ajaran Islam di kalangan masyarakat pesisir.
Perannya sangat penting: bukan hanya sebagai pendiri pemerintahan, tapi juga peletak dasar spiritual yang kelak menjadikan Cirebon pusat dakwah Islam terbesar di Jawa Barat.

Penerus Pangeran Cakrabuana adalah keponakannya sendiri, Syarif Hidayatullah, yang kemudian dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati. Beliau adalah putra dari Nyai Rara Santang (adik Cakrabuana) dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Karena itu, Sunan Gunung Jati memiliki darah Sunda sekaligus Arab.
Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaan. Ia memperluas wilayah kekuasaan, menjalin hubungan politik dengan kerajaan lain seperti Demak, dan menjadikan Cirebon sebagai pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Sunan Gunung Jati juga termasuk salah satu dari Wali Songo, sembilan tokoh penyebar Islam di Jawa.
Beliau dikenal bijak dan terbuka terhadap budaya lokal. Dalam dakwahnya, ajaran Islam disebarkan melalui pendekatan budaya — dengan kesenian, arsitektur, hingga upacara adat. Hasilnya, Islam diterima tanpa konflik dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Cirebon.
Pada masa ini pula, Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon mulai mencatatkan peran besar dalam membentuk tradisi Islam Nusantara.
Setelah wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1568, Kesultanan Cirebon mengalami perubahan politik besar. Penerusnya, Panembahan Ratu, kemudian digantikan oleh Panembahan Girilaya. Namun setelah Panembahan Girilaya wafat pada 1666, muncul perpecahan di antara keturunannya yang menyebabkan terbentuknya beberapa pusat kekuasaan baru.
Sekitar tahun 1677, wilayah Cirebon resmi terbagi menjadi beberapa kesultanan kecil, yaitu:
Keraton Kasepuhan, dipimpin oleh Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh I.
Keraton Kanoman, dipimpin oleh Pangeran Kertawijaya bergelar Sultan Anom I.
Keraton Kacirebonan, yang muncul kemudian sebagai pecahan dari Kanoman.
Keraton Gebang, yang lebih kecil dan sering terlupakan dari catatan sejarah besar.
Meski terbagi, semua keraton tersebut masih memiliki akar yang sama: Kesultanan Cirebon. Mereka tetap menjaga warisan leluhur, baik dalam bentuk adat, bangunan, maupun benda pusaka. Hingga kini, keberadaan empat keraton itu menjadi bukti nyata panjangnya Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon.

Keraton Kasepuhan adalah keraton tertua dan paling megah di Cirebon. Didirikan pada abad ke-15 oleh Pangeran Cakrabuana, keraton ini dulunya bernama Keraton Pakungwati. Gaya arsitekturnya unik, perpaduan antara Jawa, Sunda, Tiongkok, Islam, dan Eropa.
Di dalamnya terdapat berbagai peninggalan bersejarah seperti singgasana raja, kereta kencana Paksi Naga Liman, gamelan pusaka, dan lukisan Sunan Gunung Jati. Dindingnya dipenuhi ukiran indah dan porselen dari Tiongkok kuno.
Kini, Keraton Kasepuhan menjadi museum hidup yang menyimpan memori panjang Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon. Banyak wisatawan datang untuk belajar sejarah, budaya, sekaligus menikmati keindahan arsitekturnya yang megah.
Keraton Kanoman berdiri pada abad ke-16 oleh Sultan Anom I. Meski ukurannya lebih kecil dari Kasepuhan, nilai sejarahnya tidak kalah penting. Di sini tersimpan berbagai benda pusaka, termasuk kereta kencana Paksi Naga Liman Kanoman yang digunakan dalam upacara tradisional Panjang Jimat setiap bulan Maulid.

Keraton ini juga menjadi pusat kegiatan budaya dan spiritual bagi masyarakat Cirebon. Upacara adat, ziarah, hingga kegiatan keagamaan masih rutin dilakukan. Melalui keraton ini, nilai-nilai Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon terus diwariskan lintas generasi.
Keraton Kacirebonan berdiri pada tahun 1808 sebagai hasil pecahan dari Kanoman. Walau lebih kecil, keraton ini aktif menjaga kegiatan budaya dan pelestarian seni Cirebon seperti tari topeng, gamelan, dan wayang golek cepak.
Sementara Keraton Gebang, yang terletak di daerah Harjamukti, sering dianggap “keraton sunyi” karena jarang terekspos. Namun di sanalah banyak peninggalan sejarah yang merekam kehidupan bangsawan Cirebon di masa lalu.
Kedua keraton ini menjadi bagian dari mozaik besar Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon, simbol bahwa warisan budaya tidak hanya tentang bangunan megah, tetapi juga nilai-nilai yang dijaga dengan kesetiaan.
Selain menjadi kerajaan Islam, Cirebon juga dikenal sebagai kota perdagangan internasional. Letaknya di jalur Pantura menjadikannya pusat ekonomi yang ramai sejak abad ke-15. Pedagang dari Arab, Gujarat, Cina, dan Eropa datang untuk menukar rempah, tekstil, dan hasil bumi.
Dari interaksi itu lahirlah budaya yang unik: mulai dari seni ukir bergaya Tiongkok, keramik Eropa, hingga arsitektur campuran di rumah-rumah tua Cirebon. Bahkan motif batik megamendung yang terkenal hingga mancanegara dipercaya sebagai simbol pengaruh budaya Tiongkok dalam estetika lokal.
Cirebon adalah bukti nyata bagaimana perdagangan dan budaya bisa berpadu, membentuk identitas baru yang khas, sebuah identitas yang masih hidup sampai sekarang.
Hingga hari ini, nilai-nilai dari Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon masih sangat terasa. Banyak tradisi turun-temurun yang tetap dilestarikan, seperti:
Upacara Panjang Jimat: perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahun di keraton.
Tari Topeng Cirebon: pertunjukan simbolis tentang perjalanan spiritual manusia.
Batik Cirebon: dengan motif-motif khas seperti megamendung, paksinaga, dan patran keris.
Ziarah Gunung Jati: tempat dimakamkannya Sunan Gunung Jati, yang menjadi destinasi religi ribuan peziarah setiap tahun.
Semua tradisi ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Melalui budaya, Cirebon tetap menjaga ruh kejayaan kerajaannya.
Kini, Cirebon berkembang menjadi kota modern tanpa meninggalkan akar budayanya. Keraton-keraton masih berdiri, pelabuhan terus beroperasi, dan masyarakatnya tetap bangga dengan warisan leluhur.
Bagi generasi muda dan pelaku industri kreatif, Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon bukan hanya nostalgia, tapi inspirasi. Nilai keterbukaan, keberagaman, dan semangat berdagang dari masa lampau bisa diterjemahkan ke dalam karya seni, desain, dan konten digital masa kini.
Menelusuri Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon ibarat membaca kisah panjang tentang perjuangan, spiritualitas, dan kebudayaan. Dari sebuah dukuh nelayan kecil, Cirebon tumbuh menjadi kerajaan besar yang berperan penting dalam sejarah Islam dan perdagangan Nusantara.
Hingga kini, jejaknya masih hidup di setiap keraton, setiap motif batik, setiap upacara adat, dan di hati masyarakatnya. Cirebon adalah saksi bahwa pertemuan budaya tak harus menimbulkan perpecahan, tapi justru melahirkan harmoni yang indah.
Sumber : cirebonkota.go.id, Wikipedia dan beberapa artikel lainnya.
1. Kapan berdirinya Kerajaan Cirebon?
Kesultanan Cirebon berdiri sekitar tahun 1430 Masehi, didirikan oleh Pangeran Cakrabuana, keturunan Kerajaan Pajajaran.
2. Siapa tokoh penting dalam Sejarah Kerajaan dan Keraton Cirebon?
Tokoh utamanya adalah Pangeran Cakrabuana dan Sunan Gunung Jati, yang memimpin penyebaran Islam di Jawa Barat.
3. Apa saja keraton yang masih ada di Cirebon?
Empat keraton utama adalah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Gebang.
4. Mengapa Cirebon disebut Caruban?
Karena wilayahnya dulu dihuni oleh berbagai kelompok dari suku, agama, dan bahasa yang berbeda-beda, simbol campuran budaya.
5. Apa warisan budaya yang masih lestari?
Beberapa di antaranya adalah batik megamendung, tari topeng, upacara Panjang Jimat, dan ziarah makam Sunan Gunung Jati.