This Cirebon – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon memusatkan perhatian pada pengembangan kawasan kota tua sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.
Kawasan yang menjadi fokus pengembangan meliputi wilayah Pecinan hingga Lapangan Kebumen. Selain itu, pemerintah kota juga merencanakan pembangunan tugu titik nol kilometer di area Lapangan Kebumen yang disiapkan sebagai ikon baru pariwisata Kota Cirebon.
Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menjelaskan bahwa konsep pengembangan kawasan kota tua sejatinya telah mulai dijalankan. Untuk kawasan Pecinan, pengembangan saat ini difokuskan pada penguatan konsep serta penataan kawasan agar lebih tertata dan memiliki daya tarik wisata.
“Kami akan melakukan penataan sesuai fungsi kawasan dengan konsep wisata tematik,” tutur Agus, Kamis, 29 Januari 2026 dikutip dari tempo.co.
Ia menyebutkan, sejumlah program telah disiapkan untuk mendukung pengembangan tersebut, di antaranya aktivasi night market, penataan pedagang, serta pengelolaan area parkir guna memberikan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung.
Sementara itu, Lapangan Kebumen diarahkan menjadi pusat aktivitas seni dan budaya. Sejumlah kegiatan kesenian telah mulai digelar di kawasan tersebut, termasuk pertunjukan seni di Gedung Bundar.
Ke depan, Lapangan Kebumen akan dikelola langsung oleh Disbudpar sebagai kawasan pasar seni sekaligus ruang ekspresi budaya.
“Di lapangan Kebumen, aktivitas seni sudah mulai berjalan. Pertunjukan kesenian sudah kita mulai, dan ke depan kawasan ini akan menjadi pusat kegiatan seni budaya yang dikelola Disbudpar,” kata Agus.
Selain pengembangan kawasan kota tua, Disbudpar juga berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan berbagai event pariwisata. Peningkatan dilakukan dari sisi konsep, pelaksanaan, hingga daya tarik acara agar mampu menarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah.
“Event-event akan terus kami tingkatkan kualitasnya. Ini menjadi salah satu kunci untuk mendongkrak kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon,” tutur Agus.
Dengan berbagai langkah pengembangan tersebut, Agus optimistis target kunjungan wisatawan sebanyak lima juta orang pada tahun ini dapat tercapai. “Target tersebut sejalan dengan upaya penguatan sektor pariwisata berbasis budaya, sejarah, dan pengembangan kawasan kota tua,” tutur Agus.
Sebagai kota yang bertumpu pada pariwisata budaya dan sejarah, Cirebon dikenal sebagai wilayah dengan perpaduan budaya Jawa, Sunda, dan Islam. Kekayaan tersebut juga diperkaya oleh pengaruh etnis Tionghoa, Arab, dan Eropa yang membentuk harmoni budaya khas Cirebon.
“Kota Cirebon memiliki kekuatan di pariwisata budaya, sejarah, religi dan kuliner. Ini yang menjadi lokomotif kita untuk konsep kepariwisataan di Kota Cirebon,” tutur Agus.
Agus menambahkan, pihaknya terus berupaya menjadikan Kota Cirebon sebagai pusat budaya dan sejarah. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
“Ini proses panjang dan pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Keterlibatan semua stakeholder sangat penting,” tutur Agus.***
