This Cirebon – Kota Cirebon kembali menorehkan capaian membanggakan di bidang kebudayaan. Pada Penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Provinsi Jawa Barat Tahun 2026, sebanyak tujuh karya budaya Kota Cirebon resmi ditetapkan sebagai WBTB.
Penetapan ini menjadi bukti nyata bahwa kekayaan tradisi, seni, dan kuliner khas Cirebon masih hidup, lestari, dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Pengakuan tersebut tidak hanya menjadi simbol kebanggaan daerah, tetapi juga memperkuat posisi karya budaya Kota Cirebon sebagai bagian penting dari identitas budaya Jawa Barat dan nasional.
Penetapan WBTB merupakan bentuk pengakuan negara terhadap warisan budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.
Dalam konteks ini, karya budaya Kota Cirebon dinilai memiliki nilai historis, filosofis, serta sosial yang kuat dan layak dilestarikan untuk generasi mendatang.
Beragam unsur budaya yang ditetapkan mencerminkan karakter khas Cirebon sebagai wilayah pesisir dengan perpaduan budaya lokal, Islam, Tionghoa, dan Jawa.
Mulai dari seni pertunjukan hingga kuliner tradisional, semuanya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Cirebon.

Berikut tujuh karya budaya Kota Cirebon yang resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Jawa Barat Tahun 2026:
Ngisis Wayang Kulit merupakan tradisi unik dalam seni pedalangan Cirebon. Tradisi ini tidak hanya menampilkan pertunjukan wayang, tetapi juga sarat makna spiritual, filosofi hidup, serta nilai pendidikan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kue Tapel adalah kuliner tradisional khas Cirebon yang memiliki cita rasa sederhana namun autentik. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional, menjadikannya salah satu karya budaya Kota Cirebon yang merepresentasikan kearifan lokal dalam bidang kuliner.
Mie Koclok sudah lama menjadi ikon kuliner Cirebon. Hidangan ini dikenal dengan kuah kental berbahan dasar santan dan kaldu ayam, disajikan dengan topping khas.
Keberadaannya bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Cirebon.
Nasi Langgi merupakan sajian nasi dengan beragam lauk tradisional yang disusun secara khas. Kuliner ini kerap hadir dalam momen-momen tertentu dan mencerminkan nilai kebersamaan dalam budaya masyarakat Cirebon.
Meski namanya unik, Sate Kalong adalah salah satu karya budaya Kota Cirebon yang paling dikenal. Terbuat dari daging kerbau dengan bumbu khas, sate ini biasanya dijual pada malam hari dan memiliki cita rasa manis gurih yang khas.
Sega Lengko adalah kuliner sederhana berbahan dasar nasi, tahu, tempe, tauge, dan bumbu kacang. Hidangan ini mencerminkan filosofi kesederhanaan, keseimbangan, dan nilai gizi yang seimbang dalam budaya Cirebon.
Sirup Tjampolay merupakan minuman legendaris Cirebon yang telah dikenal lintas generasi. Dengan beragam varian rasa buah, sirup ini menjadi simbol daya tahan karya budaya Kota Cirebon di tengah modernisasi industri minuman.
Selain tujuh karya budaya yang telah ditetapkan, terdapat beberapa karya budaya Kota Cirebon lainnya yang masih berstatus ditangguhkan untuk penetapan selanjutnya, yaitu:
Ukir Kayu Cirebon
Tahu Tektek
Tari Sekar Kaprabon
Ketiga karya budaya tersebut akan melalui proses penyempurnaan data, kajian lanjutan, serta pendokumentasian sebelum ditetapkan secara resmi sebagai WBTB pada kesempatan berikutnya.
Pemerintah Daerah Kota Cirebon menyambut baik penetapan ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga, melindungi, dan mengembangkan karya budaya Kota Cirebon.
Warisan budaya takbenda tidak hanya berfungsi sebagai identitas daerah, tetapi juga berpotensi mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Melalui inventarisasi, pendokumentasian, dan pembinaan terhadap para pelaku budaya, diharapkan karya budaya Kota Cirebon dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi muda secara berkelanjutan.
Penetapan tujuh karya budaya Kota Cirebon sebagai WBTB Jawa Barat Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian budaya lokal.
Dukungan masyarakat, komunitas, dan generasi muda sangat dibutuhkan agar warisan budaya ini tidak sekadar menjadi simbol, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat kebersamaan, karya budaya Kota Cirebon diharapkan mampu terus berkembang, dikenal lebih luas, dan menjadi kebanggaan daerah sekaligus aset budaya bangsa Indonesia.
