This Cirebon – Meski lulus dari SMK Mutu Tunjungmuli dengan jurusan agribisnis, Rehan justru menemukan passionnya di bidang teknologi keamanan siber. Ia menjadi salah satu bug hunter muda yang sukses menemukan kerentanan sistem digital dan memberikan kontribusi penting untuk memperbaiki keamanan siber.
Rehan awalnya tidak memiliki rencana untuk berada di bidang teknologi. Setelah lulus dari SMPN 4 Karangmoncol, ia sempat mendaftar ke sekolah negeri tetapi tidak diterima.
Akhirnya, ia masuk ke SMK Tunjung Muli dan memilih jurusan agribisnis. Namun, minatnya terhadap teknologi mulai tumbuh setelah ia membaca berita tentang kebocoran data di media sosial. Rasa penasaran ini semakin kuat ketika kasus hacker Bjorka ramai dibicarakan.
Di tahun 2022, saat usianya masih 16 tahun, Rehan memulai belajar otodidak melalui internet dan YouTube. Ia mempelajari bagaimana menemukan kerentanan pada sistem digital, termasuk pemetaan aset website, ekstraksi tautan, hingga memahami data sensitif yang seharusnya tidak terpapar publik.
Setelah enam bulan belajar, ia akhirnya mencoba menguji kemampuannya. Dalam praktik pertamanya, Rehan menemukan data pribadi seperti NIK, KK, nomor telepon, dan nama lengkap yang bisa diakses secara publik dari sebuah web instansi.
Ia langsung menyusun laporan kerentanan dan mengirimkannya ke beberapa lembaga seperti CSIRT, Diskominfo, dan BSSN. Salah satu temuan pertamanya adalah celah SQL Injection pada website Kabupaten Mesuji, Lampung, yang kemudian segera diperbaiki.
Sejak itu, Rehan terus berusaha menemukan kerentanan lainnya. Di Kabupaten Purbalingga, ia pernah menemukan sekitar 1.000 data warga yang bocor. Semua temuannya selalu dilaporkan dan ditindaklanjuti.
Hingga tahun 2026, Rehan telah menerima sekitar 25 sertifikat penghargaan dari berbagai instansi, termasuk NASA. Ia bahkan masuk dalam Hall Of Fame NASA dan mendapatkan Letters of Recognition (LOR) karena berhasil menemukan kerentanan di sistem mereka melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP).
Selain sertifikat, Rehan juga mendapatkan fee dari beberapa proyek bug hunting. Meskipun gaji di dalam negeri jarang, ia pernah mendapatkan bayaran sebesar 300 dolar dari sayembara di luar negeri. Meski tidak selalu mendapat imbalan finansial, Rehan tetap antusias dan ingin terus belajar serta mengakses kerentanan di level yang lebih tinggi.
Dukungan dari orang tua dan guru sangat berpengaruh dalam perkembangan Rehan. Ayahnya, seorang kuli bangunan, dan ibunya, ibu rumah tangga, selalu mendukungnya dengan memberikan fasilitas seperti handphone baru agar bisa terus berburu celah keamanan. Rehan juga menjadi satu-satunya anak dari dua bersaudara yang terjun ke dunia siber.
Saat ini, Rehan sedang menjalani masa gap year setelah lulus SMK. Aktivitasnya sehari-hari masih diisi dengan membantu orang tua dan berburu celah keamanan sambil belajar bersama komunitas. Ia bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang Teknik Informatika dan ingin menjadi bagian dari tim siber kepolisian.