Thiscrb.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana (Unud) memberikan klarifikasi terkait kasus meninggalnya mahasiswa berinisial TAS (22) yang diduga melakukan tindakan bunuh diri. Pihak fakultas menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak disebabkan oleh tindakan perundungan (bullying) dari teman sekelas atau lingkungan kampus yang mengenal korban.
Wakil Dekan III FISIP Unud, I Made Anom Wiranata, menjelaskan bahwa antara korban dan orang yang disebut sebagai pelaku bullying tidak pernah saling mengenal.
“Mahasiswa T meninggal bukan karena perundungan. Teman-teman di sini bahkan tidak mengenalnya. Dugaan bullying itu muncul setelah kejadian, bukan berasal dari lingkungan fakultas atau teman sekelasnya,”
Ia menegaskan bahwa perundungan yang sempat ramai dibicarakan di media sosial tidak melibatkan civitas akademika FISIP Unud. Menurutnya, tidak ada indikasi bahwa tindakan tersebut dilakukan oleh mahasiswa fakultas, apalagi oleh rekan dekat korban.
Selain itu, Anom juga memaparkan bahwa berdasarkan keterangan dari ibu korban, TAS telah mengalami masalah kesehatan mental sejak duduk di bangku SMP dan sempat menjalani konseling atau terapi dengan seorang profesional. Namun, saat melanjutkan kuliah, korban diketahui tidak lagi melanjutkan pengobatan atau sesi konselingnya.
“Dari keterangan orang tua, almarhum memang memiliki gangguan psikologis dan pernah menjalani terapi. Sayangnya, setelah kuliah, proses itu tidak diteruskan,” kata Anom.
Pihak fakultas mengajak seluruh mahasiswa untuk lebih peduli terhadap kondisi mental sesama, serta tidak gegabah menilai situasi seseorang hanya dari tampilan luar. Menurutnya, setiap individu memiliki kemampuan berbeda dalam menghadapi tekanan dan masalah hidup.
“Setiap orang punya daya tahan mental yang tidak sama. Ada yang kuat menghadapi tekanan, ada pula yang rapuh. Jadi kita harus saling memahami dan mendukung, bukan menghakimi,” tambahnya.
Melalui penjelasan ini, FISIP Unud berharap publik tidak lagi mengaitkan kematian TAS dengan kasus perundungan di lingkungan kampus. Fakultas juga berkomitmen untuk memperkuat dukungan kesehatan mental bagi mahasiswa agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.