ThisCirebon.com – Di tengah gempuran dunia digital yang makin kompleks, Politeknik Siber Cerdika Internasional (Poltek SCI) justru memilih jalur yang beda. Nggak cuma sibuk di balik layar komputer, mereka turun langsung ke lapangan, menyapa masyarakat, khususnya para petani kopi.
Yang bikin unik, pendekatan mereka bukan dimulai dari tumpukan kertas MoU, tapi dari aksi nyata lebih dulu!
Yap, sebelum resmi menandatangani nota kesepahaman alias MoU, tim dari Program Studi Bisnis Digital Poltek SCI sudah lebih dulu terjun langsung ke tengah masyarakat.
Mereka menginisiasi kegiatan pengabdian lewat pelatihan dan pendampingan terhadap kelompok petani kopi yang tergabung dalam Kopi Raga Sakti.

Kerja sama ini kemudian diformalkan lewat MoU bernomor 026/MoU/POLTEK-SCI/VII/2025, yang ditandatangani oleh Ketua Prodi Bisnis Digital, Khoirul Umam, S.E., M.M, dan Ketua Kelompok Petani Kopi Raga Sakti, Trisna Agustin Septiana.
“Langkah awal ini adalah bentuk komitmen kami dalam menciptakan sinergi yang bukan hanya simbolik, tapi benar-benar memberikan dampak langsung ke masyarakat,” ujar Khoirul Umam saat dikonfirmasi.
Isi kesepakatan ini cukup komprehensif. Ruang lingkupnya nggak main-main—dari pengabdian masyarakat, pengembangan sumber daya manusia, hingga riset dan pendidikan.
Kegiatan yang sudah dilakukan meliputi pelatihan branding produk kopi, strategi pemasaran digital, sampai pelatihan dasar keuangan dan distribusi.

Ke depan, kolaborasi ini akan berlanjut dengan program-program lanjutan yang menyesuaikan kebutuhan petani kopi lokal di Cirebon.
Menurut Trisna, kerja sama ini bukan cuma soal MoU di atas kertas, tapi jadi langkah strategis buat memperkuat posisi petani kopi di era digital. “Kami merasa didengar dan dibimbing dengan pendekatan yang kekinian,” ungkapnya.
Mengutip dari dokumen MoU, kerja sama ini berlaku selama lima tahun ke depan, dan bisa diperpanjang jika kedua pihak sepakat. Seluruh biaya kegiatan ditanggung masing-masing pihak, kecuali ada kesepakatan baru di kemudian hari.
Lebih dari sekadar program formalitas, kolaborasi ini jadi bukti nyata bahwa institusi pendidikan tinggi bisa punya peran besar dalam pemberdayaan lokal—bukan hanya dari balik ruang kuliah, tapi dengan langsung terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Kegiatan seperti ini sekaligus jadi refleksi bagaimana kampus bisa menjadi katalisator perubahan sosial dan ekonomi. Dan yang paling penting, mereka menunjukkan bahwa aksi nyata lebih bermakna sebelum tanda tangan formal dibuat.