This Cirebon — Dunia keamanan siber Indonesia kembali dibuat bangga. Muhammad Wishal, seorang Independent Security Researcher (Peneliti Keamanan Siber Independen) asal Subang, Jawa Barat, berhasil mencatatkan prestasi gemilang di kancah global. Tak tanggung-tanggung, ia sukses menemukan 11 celah keamanan (bug) pada sistem milik badan antariksa Amerika Serikat, NASA (National Aeronautics and Space Administration).
Penemuan ini dilakukan melalui Vulnerability Disclosure Program (VDP), sebuah inisiatif resmi yang dirancang oleh NASA untuk mengundang para peneliti keamanan siber dan hacker agar melaporkan kerentanan pada sistem atau situs web mereka secara legal dan bertanggung jawab.
Atas keahliannya tersebut, Wishal berhasil memborong 11 Letter of Recognition, yakni surat penghargaan resmi dari VDP NASA yang secara khusus diberikan kepada peretas yang berhasil menemukan kerentanan sistem. Tidak hanya itu, nama Wishal juga berhasil masuk ke dalam daftar Hall of Fame NASA, sebuah rekognisi publik prestisius yang diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada para peneliti siber yang berkontribusi mengamankan data dan sistem badan antariksa tersebut.
Jejak rekam pemuda asal Subang ini dalam mengidentifikasi celah sistem digital ternyata sangat luas. Selain NASA, Wishal juga telah membantu mengamankan sistem berbagai institusi penting dan menerima apresiasi dari lembaga pemerintah, pertahanan, hingga perusahaan swasta.
Berikut adalah daftar institusi yang telah memberikan apresiasi atas kontribusi keamanan siber yang dilakukan oleh Wishal:
Lembaga Internasional:
U.S. Department of Defense (Departemen Pertahanan AS)
Australia Department of Home Affairs
TheFork
Lembaga Negara & Pertahanan RI:
Pusat Siber TNI Angkatan Darat
Kementerian Pekerjaan Umum (PU)
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI)
Pemerintah Daerah:
Diskominfotik DKI Jakarta
Diskominfo Daerah Istimewa Yogyakarta
Diskominfotik Provinsi Bali
Diskominfo Kota Bandung
Diskominfo Kota Tangerang Selatan
Media Massa:
Detik.com
Kompas Gramedia (KG)
Bagi Wishal, menembus pertahanan sistem digital kelas dunia bukanlah sekadar ajang pembuktian teknis, melainkan bentuk dedikasi untuk melindungi data publik.
“Menjadi independent security researcher mengubah cara saya memandang teknologi. Di balik setiap sistem yang kita gunakan, selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki, dan melindungi. Bagi saya, menemukan kerentanan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab untuk membantu menciptakan ekosistem digital yang lebih aman,” ungkap Wishal.
Prestasinya ini menjadi bukti nyata bahwa talenta muda dari Subang memiliki kapasitas mumpuni untuk bersaing dan memberikan dampak positif yang krusial dalam menjaga keamanan infrastruktur teknologi informasi di tingkat global.