This Cirebon –Pemerintah Kamboja kembali menunjukkan sikap tegas dalam memberantas kejahatan lintas negara dengan mendeportasi 335 warga negara China yang diduga terlibat dalam berbagai tindak pidana, termasuk penipuan elektronik lintas batas dan penyalahgunaan narkoba. Dari total tersebut, 14 orang di antaranya merupakan perempuan.
Proses deportasi dilakukan pada 28 Februari melalui penerbangan charter khusus yang diberangkatkan dari Bandara Internasional Dechonge. Operasi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan aparat Kamboja dalam menekan aktivitas kejahatan dunia maya yang belakangan marak terjadi di kawasan Asia Tenggara.
Aksi deportasi kali ini dipimpin langsung oleh Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Kamboja, Sar Kheng. Pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Kepala Kantor Imigrasi Sok Visna dan melibatkan berbagai unsur aparat keamanan. Operasi tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Kamboja sebagai bentuk kerja sama bilateral dalam penanganan kejahatan lintas negara.
Pihak berwenang menyebutkan bahwa para tersangka sebelumnya diamankan dalam serangkaian penggerebekan di Phnom Penh dan sejumlah wilayah lainnya. Mereka diduga menjalankan praktik penipuan elektronik atau scam berbasis daring yang menyasar korban di luar negeri.
Selain terlibat dalam jaringan penipuan elektronik lintas batas, para tersangka juga diketahui melakukan berbagai pelanggaran hukum lainnya. Di antaranya adalah:
Tinggal secara ilegal di wilayah Kamboja
Bekerja tanpa izin resmi
Menggunakan dan menyimpan narkoba
Terlibat dalam aktivitas penyelundupan
Modus penipuan elektronik yang dijalankan umumnya melibatkan skema investasi palsu, penipuan asmara (romance scam), hingga manipulasi transaksi digital. Kejahatan ini dinilai sangat merugikan korban secara finansial dan berdampak luas terhadap stabilitas keamanan digital kawasan.
Pemerintah Kamboja menegaskan komitmennya untuk terus melakukan tindakan hukum yang tegas terhadap jaringan kejahatan siber dan aktivitas ilegal lainnya. Otoritas setempat menyatakan tidak akan memberikan toleransi terhadap kelompok yang menjadikan wilayah Kamboja sebagai basis operasi penipuan internasional.
Selain memproses hukum pelaku utama, pemerintah juga menekankan pentingnya penyelamatan korban penipuan yang kerap terjebak dalam jaringan kejahatan tersebut. Upaya perlindungan dan pemulangan korban ke negara asal menjadi salah satu prioritas dalam operasi pemberantasan ini.
Deportasi 335 warga China ini menjadi operasi besar kedua yang dilakukan dalam dua hari berturut-turut di bandara yang sama. Hal ini menunjukkan intensitas penindakan yang semakin meningkat terhadap jaringan kejahatan lintas negara di Kamboja.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Asia Tenggara memang menjadi sorotan internasional terkait maraknya aktivitas penipuan daring yang dijalankan oleh sindikat internasional. Pemerintah Kamboja bersama negara-negara mitra, termasuk Tiongkok, terus memperkuat koordinasi untuk memutus jaringan tersebut.
Langkah deportasi massal ini sekaligus menjadi pesan tegas bahwa Kamboja tidak akan menjadi tempat aman bagi pelaku kejahatan internasional. Pemerintah memastikan akan terus memperketat pengawasan keimigrasian, meningkatkan patroli digital, serta memperluas kerja sama regional dan internasional dalam memerangi kejahatan siber.
Dengan operasi ini, diharapkan stabilitas keamanan nasional serta citra Kamboja sebagai negara tujuan investasi dan pariwisata dapat tetap terjaga.