This Cirebon – Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas setelah serangan udara besar yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel pada Sabtu pagi waktu setempat.
Kabar tersebut dikonfirmasi media pemerintah Iran beberapa jam setelah rentetan ledakan mengguncang sejumlah titik strategis di ibu kota Teheran. Salah satu lokasi yang terdampak adalah kompleks kepemimpinan negara yang menjadi pusat aktivitas Ayatollah Khamenei.
Ledakan pertama dilaporkan terjadi sekitar pagi hari. Sistem pertahanan udara Iran aktif merespons, namun sejumlah proyektil disebut berhasil menghantam target yang telah ditentukan. Asap tebal terlihat dari beberapa bangunan penting, sementara aparat keamanan langsung menutup akses menuju area terdampak.
Sumber resmi menyebutkan Khamenei berada di dalam kompleks saat serangan berlangsung. Upaya evakuasi dilakukan, namun ia dinyatakan meninggal dunia akibat dampak langsung dari serangan tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer itu bertujuan “menetralisir ancaman serius terhadap stabilitas kawasan”. Pemerintah Israel juga menyampaikan bahwa operasi dilakukan berdasarkan pertimbangan keamanan strategis.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Bendera dikibarkan setengah tiang di berbagai institusi negara. Siaran televisi nasional menampilkan tayangan khusus mengenang perjalanan kepemimpinan Khamenei yang berlangsung lebih dari tiga dekade.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara. Pernyataan resmi menyebut bahwa Iran akan memberikan respons yang dianggap setimpal pada waktu yang tepat.
Pengamanan diperketat di berbagai kota besar seperti Mashhad dan Isfahan. Aktivitas penerbangan sempat dibatasi, sementara fasilitas publik berada dalam pengawasan ketat.
Kematian Khamenei memicu kekosongan kepemimpinan di Iran. Berdasarkan konstitusi, proses penunjukan pemimpin tertinggi baru akan melibatkan Majelis Ahli. Dalam masa transisi, struktur pemerintahan kolektif diperkirakan menjalankan fungsi kepemimpinan sementara.
Pengamat internasional menilai situasi ini berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah. Pasar energi global langsung merespons dengan kenaikan harga minyak mentah, mencerminkan kekhawatiran terhadap stabilitas distribusi energi dunia.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas eskalasi yang terjadi.
Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989. Selama masa kepemimpinannya, ia memainkan peran sentral dalam kebijakan politik, militer, dan hubungan luar negeri Iran. Ia dikenal sebagai figur yang berpengaruh dalam memperkuat posisi Iran di kawasan serta mempertahankan garis kebijakan yang tegas terhadap Barat.
Kepergiannya menandai babak baru dalam sejarah politik Iran. Arah kebijakan negara tersebut ke depan kini menjadi sorotan dunia, di tengah ketegangan regional yang masih berlangsung.