ThisCirebon – Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon, Jawa Barat, menyiapkan 27 titik evakuasi di tingkat kelurahan dan kecamatan sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim hujan. Langkah ini merupakan bagian dari kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir, genangan air, dan angin kencang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cirebon, Andi Wibowo, mengatakan titik-titik evakuasi tersebut tersebar di wilayah rawan bencana agar proses penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan terkoordinasi.
“Sebanyak 27 titik evakuasi sudah siap digunakan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, genangan, maupun angin kencang,” katanya, dikutip dari jabar.antaranews.com.
Andi menjelaskan, BPBD Kota Cirebon telah menyiagakan 43 personel yang siap dikerahkan kapan pun terjadi keadaan darurat, dengan dukungan tim kelurahan dan kecamatan tangguh bencana yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Saat ini terdapat 12 kelurahan dan lima kecamatan yang memiliki tim tangguh bencana,” ujarnya, dikutip dari jabar.antaranews.com.
Selain menyiapkan personel, BPBD juga melengkapi sarana pendukung berupa delapan perahu karet dan enam tenda pengungsian di sejumlah titik strategis yang telah dipastikan siap digunakan bila bencana terjadi.
Menurut Andi, kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi dilakukan secara berjenjang, mencakup tiga fase: pra bencana, tanggap darurat, dan pasca bencana.
“Pencegahan dan edukasi menjadi kunci agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana akibat perubahan cuaca ekstrem,” katanya.
Dalam tahap pra bencana, BPBD bersama relawan melakukan pembersihan saluran air, pelatihan tanggap bencana, serta sosialisasi kesiapsiagaan di kawasan padat penduduk.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Cirebon, Sumanto, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana yang berlaku mulai 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026.
Status ini mencakup potensi banjir, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi, hingga tanah longsor yang dapat terjadi selama periode musim hujan.
“Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, instansi vertikal, dan organisasi kemanusiaan telah menyusun langkah antisipatif menjelang puncak musim hujan,” tuturnya, dikutip dari jabar.antaranews.com.
Sumanto menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana di Kota Cirebon. Pemerintah daerah juga terus berupaya memperbaiki sejumlah titik rawan banjir serta memperkuat infrastruktur drainase di kawasan permukiman.
“Dengan kesiapsiagaan bersama, kami berharap masyarakat Kota Cirebon semakin tangguh menghadapi ancaman hidrometeorologi,” ucapnya.
Pemkot Cirebon bersama BPBD menekankan pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi potensi bencana. Edukasi publik, peningkatan kapasitas relawan, serta optimalisasi jalur komunikasi antarinstansi menjadi prioritas utama dalam penanganan risiko hidrometeorologi.
Langkah kolaboratif ini diharapkan tidak hanya mempercepat proses evakuasi saat bencana, tetapi juga mengurangi dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.
Dengan kesiapan 27 titik evakuasi dan dukungan lintas lembaga, Pemkot Cirebon berkomitmen menjaga keselamatan warga serta memastikan penanganan bencana berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Ikuti saluran WhatsApp This Cirebon dengan klik di sini!