This Cirebon – Siaran televisi milik pemerintah Iran dilaporkan mengalami peretasan pada Sabtu (17/2/2026). Program reguler yang sedang tayang tiba-tiba tergantikan oleh video berisi pesan dari tokoh oposisi Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Insiden tersebut berlangsung selama beberapa menit dan langsung menyita perhatian publik, baik di dalam negeri maupun internasional.
Peretasan ini menyasar sistem penyiaran milik Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), lembaga media resmi negara yang berada di bawah kendali pemerintah. Dalam tayangan yang muncul secara mendadak, Reza Pahlavi menyampaikan pesan kepada masyarakat Iran dan aparat keamanan. Ia menyerukan agar pasukan tidak melakukan tindakan represif terhadap demonstran serta mendorong perubahan politik di Iran.
Gangguan siaran dilaporkan terjadi selama sekitar beberapa menit, sebelum akhirnya program resmi kembali normal. Dalam rekaman yang beredar, selain pidato Reza Pahlavi, juga ditampilkan cuplikan aksi protes anti-pemerintah yang tengah berlangsung di sejumlah kota di Iran.
Kemunculan tayangan tersebut dinilai sangat sensitif, mengingat televisi pemerintah biasanya berada dalam pengawasan ketat. Apalagi, peristiwa ini terjadi di tengah pembatasan komunikasi yang diperketat oleh otoritas Iran, termasuk pembatasan akses internet untuk mengendalikan penyebaran informasi terkait protes.
Insiden ini berlangsung saat Iran menghadapi tekanan sosial dan ekonomi yang signifikan. Inflasi tinggi, kesulitan ekonomi, serta kebijakan pemerintah yang dinilai represif memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah. Situasi tersebut membuat ruang informasi menjadi medan penting dalam pertarungan narasi antara pemerintah dan kelompok oposisi.
Peretasan siaran televisi nasional pun dianggap sebagai eskalasi baru dalam dinamika konflik politik di negara tersebut. Aksi ini menunjukkan bahwa bahkan infrastruktur media negara yang selama ini dikontrol ketat tetap memiliki potensi celah keamanan.
Pihak IRIB mengakui adanya gangguan siaran dan menyebutnya sebagai bentuk sabotase oleh pihak tak dikenal. Namun, belum ada penjelasan rinci mengenai metode yang digunakan untuk menembus sistem penyiaran. Otoritas setempat diperkirakan akan melakukan investigasi untuk mengidentifikasi pelaku serta memperkuat sistem keamanan siaran nasional.
Reza Pahlavi merupakan putra dari Mohammad Reza Pahlavi, shah terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Sejak kejatuhan monarki, ia hidup di pengasingan dan kerap menyampaikan pandangan politiknya mengenai masa depan Iran.
Bagi sebagian kelompok oposisi, Reza Pahlavi menjadi simbol alternatif kepemimpinan. Namun, dukungan terhadapnya tetap menjadi perdebatan di tengah masyarakat Iran yang memiliki pandangan beragam tentang sistem pemerintahan dan sejarah politik negara tersebut.
Peretasan televisi pemerintah Iran ini menjadi perhatian dunia karena menunjukkan bagaimana media dan teknologi dapat digunakan sebagai alat dalam konflik politik modern. Munculnya pesan oposisi di saluran resmi negara menjadi peristiwa simbolis yang memperlihatkan ketegangan yang semakin terbuka antara pemerintah dan pihak-pihak yang menentangnya.
Hingga kini, belum ada laporan resmi mengenai dampak lanjutan dari insiden tersebut. Namun, peristiwa ini diperkirakan akan semakin memperkuat tensi politik di Iran serta mendorong pemerintah untuk memperketat pengamanan sistem penyiaran dan komunikasi nasional di masa mendatang.